02/04/2026 | Press release | Distributed by Public on 02/04/2026 01:13
Phnom Penh, 4 Februari 2026 - Akhir pekan lalu, media lokal memberitakan tentang razia besar-besaran terhadap sindikat penipuan daring di Provinsi Svay Rieng, menyusul upaya serupa di provinsi-provinsi lain. Seperti diprediksi, dampak dari kegiatan tersebut langsung terlihat dari meningkatnya kembali jumlah WNI yang datang ke KBRI.
Saat ini, dihitung sejak 16 Januari 2026, tercatat 3.167 WNI telah melapor langsung ke KBRI Phnom Penh setelah keluar dari sindikat penipuan daring dan meminta fasilitasi kepulangan ke Indonesia. Angka tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah. Dari jumlah tersebut, sudah dilakukan asesmen terhadap 2100-an laporan.
Didukung tim perbantuan dari Kementerian Luar Negeri serta Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, KBRI terus lakukan pendataan, verifikasi data dan informasi, asesmen kasus, serta penerbitan dokumen perjalanan sementara. KBRI juga aktif berkoordinasi dengan otoritas setempat, guna dapatkan kemudahan dalam menangani kasus-kasus WNI.
Hingga 2 Februari 2026, KBRI Phnom Penh telah diterbitkan lebih dari 800 Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) bagi WNI yang tidak memilki paspor. KBRI juga telah berhasil menegosiasikan keringanan denda keimigrasian bagi hampir 800 WNI. Proses penerbitan SPLP dan negosiasi bagi WNI yang lainnya terus dilakukan oleh KBRI.
Di antara para WNI yang telah difasilitasi oleh KBRI, sejak tanggal 30 Januari 2026, terdapat 45 orang yang telah kembali ke Indonesia secara mandiri.
Sementara itu, untuk beberapa minggu ke depan, sekitar 130 WNI telah mempersiapkan tiket kepulangan ke Indonesia, setelah difasilitasi dokumen perjalanan sementara atau keringanan denda keimigrasian. Diyakini angka ini akan terus bertambah.
Namun demikian, dikarenakan melambungnya harga tiket penerbangan komersial akibat permintaan tinggi, banyak WNI yang belum dapat memastikan tanggal kepulangan mereka. Mulai dirasakan penumpukan WNI di lokasi penampungan sementara yang dikelola oleh KBRI berkoordinasi dengan otoritas lokal.
"Saat ini tempat penampungan sementara telah dihuni lebih dari 1.200 WNI," ungkap Duta Besar RI untuk Kamboja, Santo Darmosumarto. "KBRI akan terus mengupayakan agar kondisi di penampungan tetap kondusif. KBRI juga akan percepat proses deportasi, agar para WNI bisa segera mengatur perjalanan kepulangan mereka", tambah Dubes Santo.
Dubes RI juga mengingatkan kembali agar para WNI yang tengah menjalani proses deportasi dan sanak saudaranya di tanah air berhati-hati terhadap pihak-pihak yang berusaha melakukan penipuan dengan mengatasnamakan KBRI Phnom Penh. "Fasilitasi KBRI tidak dipungut biaya, kecuali biaya penerbitan dokumen perjalanan, sesuai dengan ketentuan yang berlaku", Dubes Santo menegaskan.