Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia

02/11/2026 | Press release | Distributed by Public on 02/11/2026 19:53

'Indonesia-Southern China Synergy Forum” Membahas Upaya Peningkatan Kerja Sama RI-RRT di Sektor Pert ...

Berita
"Indonesia-Southern China Synergy Forum" Membahas Upaya Peningkatan Kerja Sama RI-RRT di Sektor Pertanian dan Kesehatan
Tanggal
11 Februari 2026
"Indonesia-Southern China Synergy Forum" Membahas Upaya Peningkatan Kerja Sama RI-RRT di Sektor Pertanian dan Kesehatan

KJRI Guangzhou menyelenggarakan "Indonesia-Southern China (Shenzhen) Synergy Forum (ISCSF)" di Shenzhen pada 27 Januari 2026

1 / 6
arrow_back arrow_forward

Shenzhen, RRC - KJRI Guangzhou menyelenggarakan "Indonesia-Southern China (Shenzhen) Synergy Forum (ISCSF)" di Shenzhen pada 27 Januari 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan berkolaborasi dengan Asosiasi Promosi Perdagangan Indonesia-Guangdong (PPIG) dan HSBC Indonesia. Acara dihadiri oleh sekitar 350 pengusaha Tiongkok Selatan. Forum tersebut bertujuan untuk menggali peluang kerja sama investasi antara Indonesia dan wilayah Tiongkok Selatan di sektor pertanian dan kesehatan. Pada Forum ditandatangani 12 dokumen kerja sama di sektor pertanian, kesehatan, sistem pembayaran digital, dan infrastruktur digital, dengan total nilai sebesar USD 100 juta.

Dalam sambutan, Konsul Jenderal RI di Guangzhou menegaskan peran wilayah Tiongkok Selatan sebagai pusat inovasi dan teknologi maju termasuk di sektor kesehatan dan pertanian. "Wilayah Tiongkok Selatan menjadi salah satu pusat Research and Development (R&D) industri kesehatan dan pertanian, seperti penemuan benih padi hibrida dengan produktivitas tinggi dan obat-obatan serta alat kesehatan berteknologi canggih," tegas Konsul Jenderal Ben Perkasa.

Mr. Guo Song, Chairman dari Asosiasi Promosi Perdagangan Indonesia-Guangdong (PPIG) intinya menyampaikan komitmen PPIG untuk terus berperan dalam kerja sama investasi perdagangan antara Indonesia dan RRT sejalan dengan prioritas Pemerintah Indonesia dan keunggulan teknologi Tiongkok.

Mr. Guan Xiangming, Member of the Party Committe and Secretary of the Federation of Industry and Commerce of Guangdong Province intinya menyampaikan bahwa Provinsi Guangdong dan Indonesia telah mencapai titik awal sejarah baru. Di bawah kerangka "Belt and Road Initiative" dan RCEP, kerja sama antara Guangdong dan Indonesia terus diperdalam dan diperkuat, meletakkan dasar yang kokoh bagi kedua pihak untuk meningkatkan kerja sama ekonomi dan perdagangan. Diharapkan ke depan Guangdong dan Indonesia dapat memperluas kerja sama di bidang-bidang seperti ekonomi digital, kecerdasan buatan, bioteknologi, energi baru, dan material baru.

Ibu Zelda Wulan Kartika, Staf Ahli Menteri Luar Negeri Bidang Diplomasi Ekonomi intinya menyampaikan bahwa ketahanan pangan dan kesehatan menjadi prioritas pemerintahan Presiden Prabowo dalam rangka mencapai ketahanan nasional. Pemerintah Indonesia terus memperkuat produksi pangan, modernisasi pertanian, dan mengembangkan hilirisasi industri. Sementara itu di bidang kesehatan, Indonesia terus mendorong upaya transformasi kesehatan termasuk meningkatkan kapasitas produksi obat-obatan dan alat kesehatan. Dalam kaitan ini, dengan keunggulan teknologi maju yang dimiliki, RRT menjadi salah satu mitra utama di kedua sektor tersebut.

Sementara itu, Duta Besar RI untuk RRT dan Mongolia menekankan bahwa hubungan Indonesia dan RRT telah memasuki fase baru di mana kerja sama bergerak melampaui volume menuju nilai dan melampaui transaksi menuju transformasi. Kerja sama Indonesia dan RRT bukan lagi terbatas pada perdagangan barang, namun perdagangan inovasi. Kedua negara tidak lagi membangun infrastruktur, namun membangun sebuah ekosistem. "Proyek seperti kereta api cepat Jakarta-Bandung dan inisiatif 'Two Countries Twin Parks' merupakan cetak biru kemitraan Indonesia-RRT yang dimotori oleh teknologi tinggi dan berkelanjutan," imbuh Duta Besar Djauhari Oratmangun.

Para narasumber dari Kementerian/Lembaga RI terkait intinya menyoroti hal-hal yaitu: i) Indonesia menjadi destinasi menarik bagi investor asing karena pasar yang besar dan posisi sebagai hub produksi di kawasan serta iklim investasi yang semakin kondusif dan transparan. RRT merupakan investor asing terbesar ketiga bagi Indonesia dengan total akumulasi (2020-Sep 2025) mencapai USD 37,2 miliar dengan 65,054 proyek; ii) Pemerintah Indonesia terus menguatkan ekosistem kesehatan sebagai bagian dari transformasi sektor kesehatan, termasuk kapasitas produksi obat-obatan dan alat kesehatan. Dalam kaitan ini, RRT menjadi salah satu mitra potensial bagi Indonesia khususnya di bidang R&D dan produksi obat-obatan melalui riset bersama, teknologi transfer, joint ventures, dan pembangunan kapasitas dalam rangka pengembangan SDM dan percepatan inovasi di bidang kesehatan; iii) Kerja sama potensial RI-RRT di sektor pertanian sejalan dengan prioritas Pemerintah Indonesia di bidang ketahanan pangan, meliputi peningkatan produksi beras dan hilirisasi 13 komoditas strategis lainnya, pengembangan peternakan unggas terpadu di luar pulau Jawa, dan pengembangan sektor peternakan sapi perah dan sapi pedaging; iv) BPOM RI senantiasa memperkuat pengawasan terhadap produk makanan dan kesehatan sejak pra-pemasaran hingga pasca-pemasaran guna memastikan standar keamanan dan kesehatan masyarakat. BPOM mencatat kemajuan signifikan antara lain penerapan standar internasional dan teknologi inovatif untuk memperkuat kapasitas Indonesia dalam pengawasan keamanan obat-obatan dan pangan.

Sementara itu sejumlah poin yang disoroti dalam diskusi panel meliputi: kesiapan sektor perbankan Indonesia dalam mendukung investasi Tiongkok di sektor kesehatan dan pangan; fasilitas terintegrasi di Kawasan Industri di Indonesia yang siap menampung investasi Tiongkok termasuk di sektor kesehatan dan pangan; dan testimoni keberhasilan perusahaan Tiongkok dalam mengembangan investasi di sektor rantai pasok pakan ternak di Indonesia.

Dalam sambutan penutup, Ibu Lenny Umarslamet, Head of Market & Security Services HSBC Indonesia menyampaikan bahwa Indonesia tetap menjadi destinasi investasi asing yang menarik. Makroekonomi Indonesia tahun 2026 diprediksi tetap tangguh, dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,2% dan permintaan domestik tetap menjadi mesin pertumbuhan utama. Kerja sama potensial Indonesia dan RRT di sektor pertanian mencakup pengolahan makanan, logistik rantai pasok pendingin, dan teknologi pertanian.

Tiongkok Selatan khususnya Guangdong-Hong Kong-Makau Greater Bay Area (GBA) menjadi pusat inovasi pengembangan sains dan teknologi internasional khususnya di sektor kecerdasan buatan, manufaktur cerdas, ekonomi dataran rendah, dll. Tiongkok menjadi pemain penting dalam rantai pasok global sektor kesehatan. Menurut laporan McKinsey Global Institute, sektor manufaktur kesehatan Tiongkok diproyeksikan mencapai USD 10 triliun pada tahun 2030. Wilayah Tiongkok Selatan memegang peranan penting sebagai hub perdagangan RI-RRT dan sumber investasi asing di Indonesia. Pada tahun 2025, nilai perdagangan Indonesia dengan wilayah Selatan Tiongkok mencapai USD 48,7 miliar (atau 1/3 dari total perdagangan sebesar USD 167,7 miliar). Wilayah Selatan Tiongkok diperkirakan menyumbang 1/3 dari total investasi RI-RRT yang sebesar USD 7,5 miliar. Dengan keunggulan kedekatan geografis, konektivitas udara antara Indonesia dengan Tiongkok Selatan sangat kuat di mana tercatat lebih dari 59 penerbangan langsung per minggu dari sejumlah kota seperti Guangzhou, Shenzhen, Fuzhou, Xiamen, dan Haikou ke 5 kota besar di Indonesia.

Sumber: Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Guangzhou

Kembali Ke List
Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia published this content on February 11, 2026, and is solely responsible for the information contained herein. Distributed via Public Technologies (PUBT), unedited and unaltered, on February 12, 2026 at 01:54 UTC. If you believe the information included in the content is inaccurate or outdated and requires editing or removal, please contact us at [email protected]