04/25/2026 | Press release | Distributed by Public on 04/25/2026 07:16
Sulawesi Utara, Indonesia - Indonesia mendorong penguatan kerja sama ekonomi biru melalui penyelenggaraan Diplomatic Visit pada 23-24 April 2026, dengan memperkenalkan potensi kelautan dan pesisir Sulawesi Utara kepada para diplomat asing. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis untuk memperluas kolaborasi internasional di sektor kelautan berkelanjutan.
Diplomatic Visit ini merupakan kerja sama erat antara Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Regional Secretariat Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF), serta Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.
Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan diplomatik dari berbagai negara dan organisasi internasional, antara lain duta besar dari Kepulauan Solomon, Timor-Leste, dan Jerman, serta pejabat diplomatik dari Australia, Fiji, Filipina, Jepang, Malaysia, dan Papua Nugini. Turut hadir pula perwakilan badan PBB, termasuk kantor UN Resident Coordinator, UNDP, FAO, dan ILO, serta NGO internasional seperti WWF, GIZ, dan IUCN.
Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Kementerian Luar Negeri, Duta Besar Santo Darmosumarto, yang didampingi oleh Direktur Kerja Sama Intrakawasan dan Antarkawasan Aspasaf Kemlu RI, Febrian Irawati Mamesah, menegaskan pentingnya kemitraan global dalam mengoptimalkan potensi ekonomi biru Indonesia. "Melalui kegiatan ini, kami ingin membuka ruang kerja sama yang lebih konkret dengan para mitra internasional. Peran CTI-CFF juga strategis dalam menjembatani kolaborasi kawasan dan memperkuat pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan," ujar Dubes Santo.
Sebagai bagian dari implementasi kegiatan, pada 23 April 2026 para diplomat mengunjungi sejumlah lokasi strategis di Bitung dan sekitarnya, termasuk Pelabuhan Perikanan Samudra Bitung dan PT Benteng Laut Sejahtera (BLS), guna menyaksikan langsung praktik industri perikanan dan pengolahan hasil laut berorientasi ekspor. Kunjungan dilanjutkan ke Desa Pasir Panjang, Pulau Lembeh, untuk meninjau pengelolaan terumbu karang dan kawasan konservasi berbasis masyarakat. Selanjutnya, rombongan mengunjungi Desa Budo, Kabupaten Minahasa Utara, untuk melihat pengelolaan kawasan ekowisata serta melakukan penanaman bakau.
Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kunjungan diplomatic visit ini. "Kami bersyukur atas dipilihnya daerah Sulawesi Utara sebagai tempat kegiatan ini, karena kami dipercaya memiliki pengalaman baik dalam pengelolaan sumber daya maritim maupun potensi kerja sama ekonomi biru yang dapat ditawarkan," ujarnya.
Perwakilan diplomatik, termasuk Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, turut mengapresiasi pendekatan Indonesia dalam mengintegrasikan aspek ekonomi dan konservasi, serta melihat peluang kerja sama ekonomi biru yang semakin terbuka. Sementara itu, Direktur Eksekutif Sekretariat Regional CTI-CFF, Frank Keith Griffin, menekankan bahwa kunjungan tersebut mencerminkan semakin kuatnya kolaborasi regional serta komitmen bersama negara anggota dan mitra untuk mempercepat implementasi Rencana Aksi Kawasan (RPOA 2.0).
Rangkaian kegiatan ditutup dengan diskusi bertajuk "Untapping the Potentials for Cooperation on Blue Economy" pada Jumat (24/2) di Ballroom RS CTI-CFF, yang mempertemukan pemerintah, mitra pembangunan, dan perwakilan diplomatik untuk membahas peluang kolaborasi ke depan.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, pada Rabu (22/4) telah diselenggarakan kuliah umum di Universitas Sam Ratulangi untuk mengawali kunjungan diplomatik ini, sekaligus memperkuat kerja sama lintas sektor dalam menggarap potensi ekonomi biru Indonesia.
Sumber: Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia