01/24/2026 | Press release | Archived content
Sydney, Australia - Tahun 2026 menandai 50 tahun perjalanan Sydney Festival sebagai salah satu festival seni paling bergengsi di Australia. Dalam momentum bersejarah ini, kisah kemanusiaan dari Indonesia hadir di panggung internasional melalui Sisa-Sisa, sebuah pertunjukan tari kontemporer karya dua seniman berdarah Indonesia, Murtala dan Alfira O'Sullivan. Menghadirkan dua karya solo yang berangkat dari pengalaman personal dan ingatan kolektif, Sisa-Sisa menjadi refleksi artistik tentang trauma, kehilangan, migrasi, serta ketahanan manusia. Karya Gelumbang Raya menelusuri kembali pengalaman Murtala sebagai relawan pasca Tsunami Aceh 2004-sebuah perjalanan batin yang merekam duka, trauma, dan keteguhan untuk terus bertahan.
Sementara itu, Jejak & Bisik karya Alfira O'Sullivan mengeksplorasi tubuh perempuan melalui tema fertilitas, perimenopause, keibuan, dan penuaan, yang diolah menjadi refleksi mendalam tentang siklus kehidupan dan identitas. Pertunjukan ini semakin kuat dengan komposisi musik orisinal karya Gondrong Gunarto, yang menghadirkan lanskap bunyi sebagai elemen penting dalam membangun suasana reflektif dan emosional sepanjang pementasan. Berangkat dari pengalaman hidup yang autentik, Sisa-Sisa menghadirkan kehangatan di tengah kisah trauma, membuka ruang empati antara seniman dan penonton lintas budaya. Pendekatan ini menjadikan pertunjukan tersebut relevan dan bermakna bagi audiens Australia, sekaligus memperkuat dialog budaya melalui seni pertunjukan. "Pertunjukan ini terasa sangat powerful karena berangkat dari pengalaman yang nyata dan sangat relatable. Vibe kehangatan terasa di sela-sela penampilan, dan karya ini dengan indah membawa budaya kontemporer Indonesia ke hadapan audiens di Australia," ujar Wiwid Howat (35 tahun), salah satu penonton yang mengapresiasi kekuatan artistik Sisa-Sisa. Resonansi pertunjukan ini juga dirasakan oleh audiens internasional lainnya.
Carol (41 tahun), seorang penonton yang tinggal di Australia, menggambarkan Sisa-Sisa sebagai pengalaman yang kuat, intim, dan menyentuh secara emosional. "Pertunjukan ini sangat kuat dan menyentuh. Perpaduan musik dan ritmenya terasa menenangkan," tuturnya. Carol, yang pernah mengunjungi Indonesia, turut mengapresiasi kekayaan ekspresi budaya Indonesia melalui seni, musik, makanan, serta nilai kekeluargaan yang tercermin dalam pertunjukan. Sisa-Sisa menjadi pengalaman pertamanya menyaksikan seni kontemporer Indonesia, dan ia menyampaikan rasa syukur bahwa Sydney menyediakan ruang untuk merayakan keberagaman budaya dunia. Terkait partisipasi Sisa-Sisa dalam Sydney Festival 2026, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Sydney, Bapak Pendekar Muda Leonard Sondakh, menyampaikan apresiasinya terhadap karya tersebut sebagai representasi kualitas dan kedalaman ekspresi seniman Indonesia. "Sisa-Sisa merupakan karya yang membanggakan, yang menunjukkan bagaimana seniman Indonesia mampu menghadirkan pengalaman personal dan memori kolektif menjadi bahasa seni yang kuat dan relevan bagi audiens global. Inilah bentuk diplomasi budaya yang hidup, humanis, dan menjembatani dialog antarbangsa," ungkapnya.
Kehadiran Konsul Jenderal Republik Indonesia di Sydney, Bapak Pendekar Muda Leonard Sondakh, serta dukungan KJRI Sydney turut memperkuat suasana kehangatan khas Indonesia di sela-sela pertunjukan. Melalui sentuhan tarian, musik, dan kuliner, dukungan ini memperkaya pengalaman audiens sekaligus menegaskan peran seni dan budaya sebagai jembatan dialog antarbangsa. Partisipasi Sisa-Sisa dalam Sydney Festival 2026 mencerminkan kontribusi aktif seniman Indonesia dalam percakapan seni global, sekaligus memperkuat diplomasi budaya Indonesia melalui pendekatan yang humanis, inklusif, dan berakar pada pengalaman hidup.
KJRI Sydney 236-238 Maroubra Rd, Maroubra NSW 2035
Email : [email protected], [email protected]
Media Sosial : @indonesiainsyd Website : https://kemlu.go.id/sydney/id
Sumber: KJRI Sydney