03/15/2026 | Press release | Distributed by Public on 03/15/2026 20:55
Seoul, Republik Korea - "Selama ini Indonesia dan Korea telah menikmati hubungan ekonomi dan diplomatik yang kuat, namun melalui kisah-kisah seperti Gadis Kretek, kita dapat lebih memahami nilai, sejarah, dan kehidupan masyarakat masing-masing negara" ujar Duta Besar RI untuk Republik Korea, Cecep Herawan pada konferensi pers peluncuran novel Gadis Kretek terjemahan Bahasa Korea karya penulis Indonesia Ratih Kumala pada Kamis (13/3) di ASEAN-Korea Centre (AKC), Seoul, Republik Korea.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat diplomasi budaya Indonesia melalui literatur sekaligus memperkenalkan kekayaan sastra Indonesia kepada publik Korea. "Penerbitan Gadis Kretek dalam bahasa Korea bukan sekadar penerjemahan sebuah novel, tetapi juga merupakan komitmen bersama untuk memperluas pertukaran budaya antara Indonesia dan Korea", lanjut Dubes Cecep.
Peluncuran buku tersebut diselenggarakan oleh HansaeYes24 Foundation dalam rangkaian Southeast Asian Literature Series, sebuah inisiatif untuk memperkenalkan karya sastra dari negara-negara Asia Tenggara kepada pembaca Korea. Melalui seri ini, berbagai karya sastra pilihan dari kawasan Asia Tenggara diterjemahkan ke dalam Bahasa Korea agar dapat diakses oleh masyarakat luas.
Duta Besar juga menyampaikan apresiasi kepada HansaeYes24 Foundation atas komitmennya dalam memperkenalkan karya sastra Asia Tenggara kepada Masyarakat Korea. Gadis Kretek merupakan karya sastra Indonesia kedua yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh yayasan tersebut setelah novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka yang diterbitkan pada tahun 2022.
Chairperson HansaeYes24 Foundation, Baek Soomi, dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa sastra Asia Tenggara memiliki nilai penting dalam memperkaya dialog budaya di Korea. "Di saat K-Culture mendapat perhatian besar dari dunia, Korea juga perlu membuka diri terhadap berbagai karya sastra dari budaya lain" ujarnya. Ia menilai bahwa pertukaran budaya melalui literatur dapat memperluas perspektif pembaca sekaligus memperkuat pemahaman lintas budaya.
Chairperson Baek juga menambahkan bahwa penerbitan Gadis Kretek diharapkan dapat memperluas apresiasi terhadap sastra Asia Tenggara di Korea serta memperkuat jembatan budaya antara kedua kawasan.
Penulis Gadis Kretek, Ratih Kumala berbagi kisah bagaimana novel ini bisa terbentuk. Inspirasi utamanya adalah dari almarhum kakek dari pihak ibu yang dulu ternyata seorang pengusaha kretek di kota kecil di Jawa Tengah. Dari situ, ia lalu menciptakan sendiri karakter serta alur cerita fiksi sejarah hingga akhirnya terbentuklah kisah Gadis Kretek.
Novel Gadis Kretek pertama kali diterbitkan di Indonesia pada tahun 2012 oleh Gramedia Pusaka Utama dan mendapat perhatian luas dari masyarakat Indonesia. Kisah ini semakin popular setelah diadaptasi menjadi serial Netflix berjudul Gadis Kretek yang dirilis pada tahun 2023. Melalui mini seri ini, penonton global diperkenalkan kepada latar budaya, sejarah sosial Indonesia, yang dibalut dengan drama keluarga, kisah cinta serta dinamika industri kretek Indonesia.
Sebagai bagian dari rangkaian promosi buku di Republik Korea, penulis Ratih Kumala juga berpartisipasi dalam acara Book Talk di Seoul Film Center pada 13 Maret 2026 yang mempertemukannya dengan pembaca Korea. Untuk memperkenalkan narasi dan konteks budaya Indonesia kepada masyarakat Korea yang lebih luas, Ratih Kumala juga menghadiri acara Book Concert bertajuk "Beyond the Smoke" di National Asian Culture Center, di Kota Gwangju pada 14 Maret 2026.
Kegiatan peluncuran dan promosi novel Gadis Kretek di Republik Korea memiliki makna strategis dalam memperkuat diplomasi budaya Indonesia sekaligus memperkenalkan kekayaan sastra Indonesia kepada masyarakat internasional. Melalui literatur, diharapkan hubungan antar masyarakat Indonesia dan Korea dapat semakin erat, sekaligus membuka peluang kerja sama budaya yang lebih luas di masa mendatang.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, KBRI Seoul juga berkolaborasi dengan HansaeYes24 Foundation untuk memperkenalkan aspek lain dari kekayaan budaya Indonesia. Selain mempromosikan karya sastra, KBRI Seoul turut menghadirkan kopi khas Indonesia dari Gayo dalam bentuk drip bag coffee, sehingga masyarakat Korea tidak hanya mengenal Indonesia melalui literatur, tetapi juga melalui cita rasa kopi Nusantara sebagai bagian dari pengalaman budaya Indonesia yang lebih menyeluruh.
Sumber: Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul